Selasa, 02 Mei 2017



Bapak Tua Tuna Netra  

Jika anda ke Jogja dan pastinya sebagian besar ke Maliobro cobalah berjalan dari depan Mall Maliobro menuju kepatihan, tepat di depan hotel Mutiara lama sesosok pengamen dengan angklung pasti anda temui. Biaya hidup yang semakin menjepit, mendorong Sumardiono untuk bekerja. Walaupun dengan kondisi fisik kurang, tidak dijadikannya sebagai halangan mencari nafkah sebagai pengamen angklung. Kondisi kebutaan yang dialami sejak dari kecil oleh Sumardiono(60), tidak menyurutkan dirinya untuk bekerja. Pria yang seharinya berprofesi sebagai pengamen di sekitar Jl Malioboro tepatnya depan Hotel Mutiara. Permainan angklung yang mahir sekarang ini, ternyata tidak lepas dari peran kakak sepupunya seorang dalang kondang. “ sebelum sepupu saya meninggal, dia sempat mengajarkan saya cara bermain angklung hingga bisa semahir sekarang” jelas Sumardioano. “Ya Cuma inilah yang bisa saya kerjakan dengan kondisi saya sekarang ini” jelas Sumardiono. “ Walaupun begitu saya tetap tidak menyerah, yang penting saya bisa bekerja dan istri bisa makan” tambahnya lagi. Permainan angklung Sumardiono ternyata menarik perhatian dari para pengunjung Malioboro. Bapak yang belum memiliki anak ini mengatakan “ saya pernah diusir oleh petugas hotel, karena menurut mereka saya sudah mengganggu kenyamanan pengunjung hotel tersebut”. “ Padahal saya kan cuma berada di luar hotel, mungkin karena mereka lihat kalau saya ini buta makanya mereka memandang rendah saya” kata Sumardiono.
Pria yang bertempat tinggal di bantul ini waktu ditanya bagaimana dirinya datang setiap harinya kesini, Mardiono menjawab “saya kesini diantar sama tetangga menggunakan becak setiap jam 9 pagi, begitu juga pulangnya saya dijemput lagi” jelas Sumardiono.
Bila bicara soal penghasilan Mardiono mengatakan “ tidak ada pendapatan tetap bagi pengamen apalagi orang buta seperti saya, kadang cukup buat makan bahkan kadang tidak dapat sama sekali”jelasnya. “untung saja istri saya juga bekerja dilaundry, jadi sedikit bisa meringankan biaya hidup kami” tambah Sumardiono. Beliau juga menambahkan “ saya pengen semua orang bisa seperti saya untuk rajin berusaha, jangan jadikan kondisi cacat alasan” setidaknya itu pesan Sumardiono sembari menyudahi percakapannya. Keterbatasan tidak pernah menghalangi sesorang untuk menikmati hidup.