Bapak
Tua Tuna Netra
Jika
anda ke Jogja dan pastinya sebagian besar ke Maliobro cobalah berjalan dari
depan Mall Maliobro menuju kepatihan, tepat di depan hotel Mutiara lama sesosok
pengamen dengan angklung pasti anda temui. Biaya hidup yang semakin menjepit,
mendorong Sumardiono untuk bekerja. Walaupun dengan kondisi fisik kurang, tidak
dijadikannya sebagai halangan mencari nafkah sebagai pengamen angklung. Kondisi
kebutaan yang dialami sejak dari kecil oleh Sumardiono(60), tidak menyurutkan
dirinya untuk bekerja. Pria yang seharinya berprofesi sebagai pengamen di
sekitar Jl Malioboro tepatnya depan Hotel Mutiara. Permainan angklung yang
mahir sekarang ini, ternyata tidak lepas dari peran kakak sepupunya seorang
dalang kondang. “ sebelum sepupu saya meninggal, dia sempat mengajarkan saya
cara bermain angklung hingga bisa semahir sekarang” jelas Sumardioano. “Ya
Cuma inilah yang bisa saya kerjakan dengan kondisi saya sekarang
ini” jelas Sumardiono. “ Walaupun begitu saya tetap tidak menyerah,
yang penting saya bisa bekerja dan istri bisa makan” tambahnya lagi.
Permainan angklung Sumardiono ternyata menarik perhatian dari para pengunjung
Malioboro. Bapak yang belum memiliki anak ini mengatakan “ saya pernah
diusir oleh petugas hotel, karena menurut mereka saya sudah mengganggu
kenyamanan pengunjung hotel tersebut”. “ Padahal saya kan cuma berada di luar
hotel, mungkin karena mereka lihat kalau saya ini buta makanya mereka memandang
rendah saya” kata Sumardiono.
Pria
yang bertempat tinggal di bantul ini waktu ditanya bagaimana dirinya datang
setiap harinya kesini, Mardiono menjawab “saya kesini diantar sama tetangga
menggunakan becak setiap jam 9 pagi, begitu juga pulangnya saya dijemput
lagi” jelas Sumardiono.
Bila bicara soal penghasilan Mardiono mengatakan “ tidak ada pendapatan tetap bagi pengamen apalagi orang buta seperti saya, kadang cukup buat makan bahkan kadang tidak dapat sama sekali”jelasnya. “untung saja istri saya juga bekerja dilaundry, jadi sedikit bisa meringankan biaya hidup kami” tambah Sumardiono. Beliau juga menambahkan “ saya pengen semua orang bisa seperti saya untuk rajin berusaha, jangan jadikan kondisi cacat alasan” setidaknya itu pesan Sumardiono sembari menyudahi percakapannya. Keterbatasan tidak pernah menghalangi sesorang untuk menikmati hidup.
Bila bicara soal penghasilan Mardiono mengatakan “ tidak ada pendapatan tetap bagi pengamen apalagi orang buta seperti saya, kadang cukup buat makan bahkan kadang tidak dapat sama sekali”jelasnya. “untung saja istri saya juga bekerja dilaundry, jadi sedikit bisa meringankan biaya hidup kami” tambah Sumardiono. Beliau juga menambahkan “ saya pengen semua orang bisa seperti saya untuk rajin berusaha, jangan jadikan kondisi cacat alasan” setidaknya itu pesan Sumardiono sembari menyudahi percakapannya. Keterbatasan tidak pernah menghalangi sesorang untuk menikmati hidup.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar